Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2010

Download E-book Gratis | E-book Islam | Artikel Harun Yahya

Dewasa ini perkembangan zaman telah membawa kita ke arah yang secara tidak sadar kita tidak tahu dimana. untuk itu, supaya anda sekalian memahami arti makna hidup ini saya memosting sebuah artikel yang cukup mengatasi masalah anda dengan gampang, tidak perlu bingung-bingung mencari kesana-kesini. melalui artikel Harun Yahya ini saya berharap dapat membantu masalah anda sekalian.

Terima Kasih !


Artikel Harun Yahya

Rabu, 13 Januari 2010

Imlek Feat Ajaran Islam

Perayaan imlek di Indonesia, berawal dari kebebasan yang diberikan Presiden Abdurrahman Wahid tahun 2000, penetapan libur fakultatif oleh Menteri Agama tahun 2001, hingga penetapan libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri melalui SK Presiden RI No 19, April 2002. Hal ini, merupakan kebijakan yang toleran dan menempatkan etnis Tionghoa setara dengan warga Negara Indonesia lainnya. Keputusan pemerintah ini sejalan dengan proses reformasi, setelah pada periode Orde Baru, Soeharto melakukan represi yang mendeskriminasi etnis Tionghoa.
“Pemerintah Orde Baru, lewat Instruksi Presiden No. 14/1967, dengan tegas melarang segala bentuk kegiatan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Alasannya, yakni jika berbagai kegiatan tersebut tetap dilakukan, ditakutkan para warga keturunan Tionghoa lebih pro pada Negara asalnya dibanding pada Indonesia”.

Asal Mula
Dalam sejarah, Tahun Baru imlek muncul dari tradisi masyarakat agraris Tiongkok. Para petani yang kehidupannya tergantung kondisi alam mempunyai perhitungan sendiri untuk penanggalan yang disesuaikan dengan pola musim tanam. Hari raya imlek (Yinli Xinnian) jatuh tanggal 1 bulan 1 tahun imlek berdasarkan perhitungan peredaran bulan, dikombinasikan dengan perhitungan peredaran matahari dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi. Kalendernya disebut nungli, berarti kalender untuk petani.
Pendapat lain menyebutkan, Imlek didasarkan perpaduan perhitungan peredaran bulan dan matahari (lunisolar). Penanggalan ini memiliki konsekuensi tiap 19 tahun dilakukan tujuh kali penambahan atau penyisipan satu bulan pada tahun tertentu, agar jumlah hari per tahun dalam kurun tertentu sama dengan system solar. Menjelang Imlek biasanya turun hujan, banyak buah, dan juga panen hasil pertanian lain. Hal inilah, yang disyukuri petani, karena selain panen, masa itu baik untuk menanam kembali untuk musim berikutnya. Dengan demikian, selain suasana syukur, Imlek juga munculnya harapan baru untuk masa depan (musim) yang lebih baik.
Dari daerah aslinya, suasana perayaan Imlek adalah benar-benar pesta rakyat menyambut datangnya musim semi, lalu bersama-sama sambil menari-nari mananam kembali sawah dan kebun dengan tanaman sambil berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa memohon berkat yang berkecukupan. Jadi, perayaan Imlek ini sebenarnya dilakukan oleh seluruh rakyat, bukan dominasi agama tertentu, karena memang perayaan untuk menyambut datangnya musim semi. Belakangan, perayaan Imlek juga dilaksanakan di masjid-masjid. Tentu saja, ini dilakukan oleh warga muslim Tionghoa. Tahun 2003, warga muslim Tionghoa di Yogyakarta pernah melaksanakan perayaan di masjid. Pelaksanaan Imlek di masjid itu dilakukan setelah mendapat dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yogyakarta yang memberikan izin kepada Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) untuk melakukan kegiatan Imlek di Masjid Syuhada, Kota Baru. Bagi mereka, imlek di pandang bukan sebagai ritual suatu agama tertentu Konghucu, misalnya, tetapi merupakan ungkapan syukur pergantian tahun.
Di era modern ini, tampaknya telah terjadi sebuah pergeseran makna Imlek. Selama ini, ucapan selamat yang populer berbunyi “gong xi fa cai”. Ucapan ini berarti “semoga tambah kaya” dalam dialek Guangzhou. Sebetulnya, jika ditilik dari asal mula dan sejarahnya di atas, ucapan di kalangan orang Tionghoa yang dahulu, berbunyi “sin cun kiong hi” yang artinya, “selamat memasuki musim semi” (xin chun gong xi). Hal ini, terjadi sejalan dengan budaya dagang di kalangan Tionghoa yang mementingkan akumulasi kekayaan, maka ucapan Gong Xi Fa Cai memang agaknya lebih tepat. Walaupun sebetulnya, pada hari yang membahagiakan ini apa saja boleh diucapkan. Tambah bahagia, tambah kaya, tambah panjang umur, atau yang lain.
Sebenarnya, dalam tradisi masyarakat Tionghoa, yang paling penting dalam perayaan imlek ini adalah kembalinya makna keluarga. Berbagai macam ucapan di atas, hanya untuk mengiringi sebuah kegembiraan yang lebih dalam lagi, yaitu kegembiraan menjadi bagian satu keluarga. Dalam tradisi Tionghoa yang sudah berumur 4000 tahun, “keluarga” atau “jia” mempunyai kedudukan sentral. Bagi masyarakat Tionghoa, keluarga bukan hanya lingkungan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, tetapi juga kiblat atau koordinat tempat ia berpijak untuk mengarungi samudra kehidupan. Dari keluarga, ia mendapatkan bantuan apa saja : moral, spiritual dan material, sedemikian erat hubungan dalam keluarga, sehingga tidak jarang muncul ekses-ekses ke arah nepotisme.
Perayaan Tahun Baru Imlek pada intinya perayaan anak-anak yang ingin menunjukkan xiao (bakti) mereka kepada leluhur. Semua anak, cucu, dan semua saja yang masih mempunyai hubungan darah, datang berkumpul untuk bertemu. Arwah leluhur memang dido’akan dari waktu ke waktu, tetapi sembahyang pada kesempatan Pesta Musim Semi inilah yang paling besar dan paling resmi dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Semua orang akan berusaha sekuat tenaga untuk pulang ke kampong halaman untuk merayakan xin nian (tahun baru).
Tradisi Imlek agaknya tidak berbeda dengan kultur mudik yang hanya ada dikalangan muslim Indonesia. Mudik adalah kembali kepada keluarga dirumah asal. Merayakan hari raya bersama, saling meminta maaf dan mendo’akan. Sekaligus untuk menunjukkan bakti yang menjadi manifestasi ajaran birr al-walidain (bakti kepada kedua orang tua) dalam islam.

Masjid Cheng Hoo Surabaya


Masjid ini merupakan masjid pertama di Indonesia yang bernuansa arsitektur Tiongkok. Masjid ini dibangun atas keinginan masyarakat muslim Tionghoa di Indonesia untuk memiliki sebuah masjid dengan gaya Tionghoa, untuk lebih mempertegas budaya Tionghoa.
Begitu melihat bangunan ini, melalui bentuk atapnya dan warna yang mendominasi bangunannya, kita akan berfikir bahwa bangunan ini adalah sebuah kuil. Namun, begitu kita lihat dengan seksama, di puncak mahkota dapat kita lihat tulisan kaligrafi Allah layaknya masjid-masjid kebanyakan. Kemudian, terlihat juga ukiran kaligrafi pada lubang penghawaan yang berbentuk bundar, serta keberadaan bedug dan mihrab pada bangunan ini.
Masjid kecil ini memiliki konsep yang sarat dengan makna. Bentuk bangunan yang bergaya Tiongkok dan dipadukan dengan budaya Jawa, menggambarkan sikap hidup Laksamana Cheng Hoo yang bergaya hidup masyarakat kosmopolitan, penuh toleransi dan harmoni. Perpaduan ini dapat kita lihat melalui bentuk atap utama yang berbentuk pagoda (budaya India kuno) segi 8 (dalam perhitungan Tionghoa angka 8 berarti keberuntungan) dan berlapis 3 (budaya Hindu Jawa). Nuansa Tiongkok pada atapnya semakin terasa dengan coraknya dan warna yang didominasi oleh warna hijau, merah, dan kuning. Bentuk atap ini juga merupakan hasil adaptasi dari masjid Niu Jie di Beijing.
Komposisi bangunan dan lahannya juga memiliki makna tertentu. Ukuran masjid yang imut ini terlihat sangat mencolok, karena berada di tengah lahan yang luas, tampil bak kapal Admiral Cheng Hoo yang membelah samudra luas.
Ukuran podium yang kecil (9m x 11m) juga ternyata memiliki makna. Angka 11 di ambil dari ukuran Ka’bah di Mekkah. Sedangkan, angka 9 melambangkan jumlah Wali Songo, Sembilan wali yang menyebarkan ajaran islam di Indonesia.
Warna merah, hijau, biru, dan kuning yang mendominasi masjid ini juga ternyata memiliki makna tertentu. Warna-warna ini sering digunakan pada bangunan Tiongkok kebanyakan. Dominasi warna-warna ini membuat nuansa Tiongkok semakin kental pada masjid ini. Dalam kepercayaan Tionghoa, masyarakatnya percaya bahwa warna merah melambangkan kebahagiaan, biru melambangkan harapan, kuning melambangkan kemasyhuran, dan hijau melambangkan kemakmuran.
Jumlah anak tangga yang berada di dalam dan luar masjid juga tidak sama. Di dalam masjid berjumlah 6, sedangkan di luar masjid bejumlah 5. Ternyata, jumlah anak tangga yang berbed ini sengaja dibuat oleh arsirteknya. Jumlah kedua anak tangga ini melambangkan jumlah rukun iman dan rukun islam yang dimiliki umat islam.
Masjid yang dibangun tanpa pintu ini, juga melambangkan sikap Laksamana Cheng Hoo yang penuh dengan keterbukaan dan menyambut kedatangan siapapun dengan latar belakang apapun dengan baik. Keterbukaan masjid ini juga demikian, siapapun dengan latar belakang apapun yang dimiliki dapat memasuki masjid ini.
Masjid yang grand opening-nya pada tanggal 28 Mei 2003 dan dibuka oleh Menteri Agama RI pada saat itu, juga menghadirkan sebuah penghargaan dari MURI atas prestasi sebagai “Pemrakarsa dan Pembuat Masjid Ber-arsitektur Tiongkok”. Tentu prestasi yang membanggakan.

Senin, 09 November 2009

Nonton Film Porno

Menonton film porno bagi seorang remaja muslim seperti kamu akan melahirkan sebuah tanda Tanya besar, mengapa?? Hayo kenapa??
Pertama, para pemain film porno itu tentu sedang melakukan zina saat beradegan di dalam film itu. Sebab bisa dipastikan bahwa mereka bukan pasangan yang sah. Lagi pula, bisa dipastikan tidak ada tipuan kamera atau pun trik lainnya. Jadi, saat kamu sebagai remaja muslim baik-baik menontonnya, pada hakikatnya kamu sedang melihat orang berzina sekaligus melihat aurat orang lain. Bukan hanya menonton, tapi menikmatinya juga ! Nah, lho ! Bahkan mengambil ilham dari apa yang mereka lakukan. STOP !!! Plizz. …. Jangan ya !!!
Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur:30)
Kamu lihat ayat di atas, perintah menahan pandangan disebutkan terlebih dahulu sebelum perintah memelihara kemaluan. Mengapa? Menurut Syekh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, agaknya karena menahan pandangan merupakan cara dasar untuk memelihara kemaluan, maka Allah menyebutkan perintah menahan pandangan itu paling awal. Rosulullah SAW bersabda. “Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri keturunan anak adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian itu tanpa bisa dipungkiri. Mata itu bisa berzina dan zinanya adalah pandangan. Lidah itu bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan. Kaki itu bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah. Tangan itu bisa zina, dan zinanya adalah tangkapan keras. Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari Musim)
Kedua, waktu kamu punya koleksi film porno, pasti kamu akan merahasiakannya. Sebab pasti kamu akan merasa malu kalau ketahuan orang lain, terutama orang tua, kakak atau adik dan orang lain. Hay, ngaku, deh ! Mengapa kamu merasa malu memilikinya dan takut ketahuan orang lain? Karena sebenarnya dalam hati nurani kamu sudah ada jawabannya, yaitu barang itu sebenarnya barang yang tidak terpuji!!! Ya, toh?? Pemiliknya biasanya juga bukan orang baik-baik , apalagi penjualnya. Dan waktu seseorang ingin membelinya, dia pasti akan merasa kurang aman dan harus tengok sana-sini Karena takut ketahuan orang lain dan dipermalukan. Nah, rasa malu itu sudah semestinya menjadi salah satu tolok ukur bahwa benda itu bukanlah barang yang baik dan terpuji.
Dari Nawas bin Sam’an r.a. Nabi SAW bersabda, “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan engkau tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim)
Ketiga, dengan membeli film itu sebenarnya juga sudah ikut menyukseskan film dan pembuatnya. Uang yang dibelikan untuk film itu akan memperbesar industry film cabul termasuk para pengedar dan pembajaknya. Dan sadarlah, sobat, bahwa sebagian besar pembuat film porno itu adalah orang-orang non-muslim yang bermaksud menghancurkan akidah umat islam. Dengan kata lain, mereka adalah musuh-musuh islam yang tak pernah berhenti beroprasi !
Keempat, gairah seksual seharusnya ditimbulkan, bukan ditumbuhkan dari menonton orang lain berzina. Tumbuhkanlah dari keharmonisan pasangan suami-istri itu sendiri karena hubungan seks dalam ajaran islam sangat suci. Kelak kamu bakal ngerasain, kok! Dalam surat Yasin, ketika Allah menjelaskan keberpasangan makhluk-Nya, dimulai-Nya penjelasan itu dengan kalimat “Mahasuci”, “Mahasuci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan seluruhnya, dari jenis yang tumbuh di bumi, dari jenis mereka (manusia) maupun dari makhluk-makhluk yang mereka tidak ketahui.” (QS. Yasin : 36). Rosulullah SAW juga menjelaskan bahwa hubungan suami-istri merupakan ibadah, dan mereka memeroleh ganjaran dari Allah SWT bila melakukannya sesuai petunjuk agama.
Kelima, kalaupun dibutuhkan pendidikan seks, maka untuk mempelajarinya harus disampaikan dengan cara yang sopan, ilmiah, dan tidak vulgar sehingga contoh praktiknya tidak harus dengan meniru adegan dalam film porno tersebut.
Sobat-sobat, kamu harus paham, ya! Jagalah matamu dari pandangan yang tidak baik. Demikian,wallahua’lam.

Bertaubat dari zina

Zina adalah perbuatan yang sangat keji. Jangankan melakukannya, mendekatinya pun sudah dilarang (QS. Al-Isra’). Tetapi, seseorang yang pernah malakukan zina masih terbuka peluang untuk di ampuni dosanya jika ia bertobat. “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS . Az-zumar:53)
Kata “taubat” diambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ta’, wauw, dan ba’. Maknanya hanya satu, yaitu “kembali”. Kata ini mengandung makna bahwa yang kembali pernah berada pada satu posisi baik tempat maupun kedudukan, kemudian meninggalkan posisi itu, selanjutnya dengan “kembali” ia menuju kepada posisi semula.
Syarat kita untuk bertaubat ada tiga. Pertama, menyesal atas terjadinya perbuatan buruk. Kedua, melepaskan diri dengan seketika dari perbuatan buruk. Ketiga, keinginan kuat untuk tidak mengulang lagi.
Kamu benar bahwa amal-amal shalih dapat menghapus dosa-dosa kita. Dan perlu di garis bawahi bahwa penghapusan dosa atau pengampunan Allah tidak hanya diperoleh melalui tobat yang memenuhi syarat, tapi tidak ada yang melalui amal-amal shalih. Bahkan dapat saja tanpa taubat dan amal shalih, tetapi semata-mata atas dasar kebijaksanaan dan hak preriogratif-Nya. Karena itu Nabi SAW bersabda, “Susulkan dosa dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya.” (HR. Tirmidzi, melalui Mu’adz bin Jabal)
Selain itu, di anjurkan juga untuk memperbanyak usapan isithgfar kepad Allah. Karena jangankan manusia biasa. Rosulullah SAW pun bisa beristighfar seratus kali setiap hari (HR. Muslim). Permohonan taubat adalah dengan menyadari kesalahan yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak mengulanginya, serta memohon ampunan-Nya. So, apalagi yang harus kamu lakukan??!! Bertaubatlah!!! Demikian, wallahua’lam.

Manusia terdiri dari tiga golongan

-->
Ayyub ibnul Qoryah berkata, “Manusia terdiri dari tiga golongan, yakni orang yang berakal, yang dungu, dan yang durhaka (perusak).”
Yang berakal menjadikan agam sebagai syari’atnya, sabar dan tenang adalah tabiatnya. Pandangan dan pikiran sehat menjadi pedomannya.
Orang yang berakal, apabila ia ditanya maka akan menjawab dengan baik, kalau berbicara selalu tepat dan benar. Kalau mendengarkan uarian ilmu maka ditekuninya. Dan kalau bercerita, ia mengambil dari sumber riwayat.
Adapun orang yang dungu, kalau berbicara mengecewakan orang, kalau bercerita menakut-nakuti dan kalau mengemukakan pendapat maka pendapatnya tidak berbobot.
Sedangkan orang yang durhaka (fajir), apabila kamu amati dia berkhianat. Bila kamu ajak bicara maka dia mmemburuk-burukkanmu, kalau kamu menolongnya dia tidak memelihara kebaikanmu dan tidak mampu menyimpan rahasiamu. Kalau kamu belajar ia tidak mau mengambil pelajaran dan hikmahnya. Kalau berbicara dia tidak mau mengerti dan kalau dibimbing agama dia tidak mau memahaminya.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by EiAk - Journalism World | EiAk Corporation